SUMEDANG, RUANGIMAGI.com – Malam di halaman Parkir Mal Pelayanan Publik (MPP) Sumedang, Jumat (13/2/2026), berubah menjadi panggung kebangkitan budaya. Pertunjukan Tari Eak-eakan hingga teatrikal Ekosistem Budaya Kasumedangan: Ngajajap Rasa Panghiap Ratu (Intelektual Renaissance Sang Pangeran) sukses memukau ratusan penonton yang larut dalam nuansa magis dan sarat makna.
Pagelaran semakin semarak dengan kehadiran Maruarar Sirait yang akrab disapa Bang Ara, serta Dedi Mulyadi atau KDM. Kehadiran dua tokoh nasional tersebut menjadi simbol dukungan nyata terhadap pelestarian budaya daerah yang kaya sejarah dan filosofi.
Energi Eak-Eakan Buka Malam Penuh Spirit
Sejak tabuhan musik tradisional menggema, Tari Eak-eakan langsung membakar semangat penonton. Gerakan dinamis, kompak, dan penuh ekspresi dari para penari menghadirkan suasana meriah sekaligus membangkitkan rasa bangga terhadap warisan seni tradisi Sunda.
Riuh tepuk tangan dan sorak apresiasi menjadi bukti bahwa seni tradisional tetap punya tempat di hati masyarakat, terutama ketika dikemas secara megah dan relevan dengan zaman.
Tari Kolosal dan Narasi Peradaban
Pertunjukan berlanjut dengan tari kolosal Ngajajap Rasa – Panghiap Ratu yang melibatkan puluhan penari dalam formasi artistik yang memukau. Visual yang kuat berpadu dengan koreografi dramatik, menggambarkan perjalanan nilai kehidupan masyarakat Sumedang—dari kebersamaan, rasa syukur, hingga penguatan identitas budaya warisan leluhur.
Tak berhenti pada estetika gerak, pementasan diperdalam melalui teatrikal Ngajajap Rasa Panghiap Ratu. Penonton diajak menyusuri perjalanan peradaban Sumedang Larang dari masa kejayaan hingga relevansinya dalam kehidupan modern.
Babak pembuka menampilkan Sumedang sebagai tanah agung yang menjunjung harmoni antara manusia dan alam. Gunung, hutan, air, dan tanah digambarkan sebagai titipan leluhur yang wajib dijaga penuh tanggung jawab.
Jejak Islam dan Harmoni Kepemimpinan
Memasuki babak berikutnya, kisah beralih pada momentum bersejarah masuknya Islam ke tanah Sumedang melalui dakwah Pangeran Kusumahdinata kepada Ratu Inten Dewata.
Narasi tersebut menggambarkan bagaimana Islam hadir bukan untuk menghapus tradisi, melainkan menyempurnakan nilai yang telah hidup di tengah masyarakat. Harmoni antara syariat, adat, dan kepemimpinan bijaksana menjadi benang merah cerita.
Babak reflektif kemudian membawa pesan kontekstual: kepemimpinan yang berakar pada budaya akan lebih dekat dengan rakyat, sementara kepemimpinan berlandaskan keimanan akan menjaga amanah dengan adil dan penuh tanggung jawab.
Simbol Hanjuang dan Kujang, Pesan untuk Generasi
Puncak pertunjukan ditandai prosesi simbolis penyerahan hanjuang dan kujang pusaka Sunda. Hanjuang dimaknai sebagai simbol amanah perjuangan leluhur, sementara kujang melambangkan ketajaman berpikir, keberanian, dan semangat memperjuangkan kebenaran yang dilandasi welas asih.
Tokoh seni dan budaya Sumedang, Ujang Bejo, menegaskan bahwa pagelaran ini bukan sekadar tontonan.
“Ini ruang edukasi budaya bagi generasi muda. Seni bukan hanya hiburan, tetapi media pewarisan jati diri agar masyarakat tidak tercerabut dari akar budayanya,” ujarnya.
Menurutnya, pelestarian budaya harus dikemas secara kreatif agar tetap relevan dan mampu menarik minat generasi muda di tengah arus modernisasi.
Budaya yang Hidup, Bukan Sekadar Kenangan
Pagelaran ini menjadi bukti bahwa budaya Kasumedangan bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan energi hidup yang terus diperbarui. Di tengah derasnya arus globalisasi, Sumedang menunjukkan bahwa identitas lokal bisa tampil megah, modern, dan tetap berakar kuat pada nilai luhur.
Malam itu, bukan hanya panggung yang menyala—tetapi juga semangat untuk menjaga dan menghidupkan kembali jati diri budaya Kasumedangan.

